Deja Vu bag 12 by Sally Diandra

Deja Vu bag 12 by Sally Diandra. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, perasaan Jodha tidak menentu, hatinya gundah gulana, Jodha nggak bisa membayangkan bagaimana keadaan Jalal disana, saat itu Rukayah, Moti dan Maan Singh mengantarnya ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Maan Singh segera mengajak Jodha masuk kedalam, melewati lorong lorong rumah sakit dimana di kanan kirinya terdapat taman dengan bunga warna warni dan daun daun yang menghijau, lorong demi lorong mereka lalui dengan perasaan cemas, Jodha tidak begitu memperhatikan posisinya saat ini mereka sudah sampai di lorong atau bangsal apa, Jodha hanya mengikuti Maan Singh menyusuri koridor rumah sakit. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang bertuliskan RUANG JENAZAH, jantung Jodha langsung berhenti berdetak, apalagi dilihatnya Naser teman Jalal ada di depan pintu ruangan tersebut dengan tatapan yang sedih
“Maan Singh, kamu yakin, kita harus kesini ?” suara Jodha terdengar cemas
“Maaf, Jodha ,,, kita memang harus kesini, kamu yang tabah yaaa, yuuk kita masuk” sesaat Jodha terdiam, Jodha hanya bisa merasakan antara percaya dan tidak percaya, rasanya tidak mungkin Jalal akan pergi secepat ini, sementara Rukayah dan Moti juga hanya terdiam, mereka tidak bekicau seperti biasanya yang suka menggoda Jodha.
“Kamu yakin, Maan Singh ?” Jodha mencari sebuah jawaban dari mata Maan Singh yang tertutup kacamata minusnya
Deja Vu“Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya pada Naser, Aziz juga ada di dalam, ayooo” Maan Singh kembali mengajak Jodha dengan muka sedih
“Ayooo, Jodha ,,, kita masuk ke dalam, paling tidak kita pastikan, apakah itu benar Jalal atau bukan” Moti mengajak Jodha masuk ke dalam sambil menggandeng tangannya, Rukayah membuntuti mereka dari belakang, Jodha akhirnya menurut mengikuti bimbingan Moti.
Sesampainya di dalam ruang jenazah, ruangan itu terasa dingin dan mencekam, dilihatnya di sana berjejer beberapa jenazah yang tertutup oleh kain putih, Jodha merinding melihat tubuh tak bernyawa itu. Jodha melihat ada Aziz disana yang sedang berdiri di sebelah jenazah yang tertutup kain putih, dari tempatnya berdiri tiba tiba simpul otak abu abunya mengingatkan sesuatu di masa lalu yang seperti pernah Jodha lihat sebelumnya
“Kenapa aku merasa familiar dengan pandangan seperti ini ? Kenapa aku merasa pernah melihat sebelumnya ? Tapi dimana ? Rasanya aku pernah mengalaminya, tapi dimana ?” bathin Jodha dalam hati
“Jodha, kamu mau melihatnya ?” suara Aziz tiba tiba menyadarkan Jodha dari lamunannya, Jodha segera mendekat ke arah jenazah yang ada di sebelah Aziz
“Aziz, kamu bohong kan ? Ini nggak bener kan ? Kamu pura pura kan ?” mata Jodha berkaca kaca sambil menatap wajah Aziz kemudian beralih ke wajah teman temannya yang lain, dipandanginya wajah teman temannya satu per satu, dilihatnya semuanya hanya terdiam, menunduk sedih, suasana berkabung terasa sekali pada siang itu
“Kamu mau melihatnya, Jodha ?” kembali suara Aziz mengusik lamunan Jodha, Jodha akhirnya mengangguk, perlahan lahan Aziz membuka kain putih yang menutup tubuh seseorang yang menurut teman teman itu adalah Jalal, Jodha berharap itu bukan Jalal namun ketika kain putih itu tersibak, degup di jantung Jodha semakin berdebar kencang ketika akhirnya wajah orang itu terlihat dan ternyata benar, tubuh yang terbujur kaku itu adalah Jalal, laki laki yang selama ini selalu menggodanya, sesaat Jodha hanya terdiam ketika melihat wajah Jalal terpapar jelas di depannya, Jodha benar benar nggak percaya, tak terasa pipinya basah, Jodha segera menyeka airmatanya dan dibelainya wajah Jalal dengan ragu ragu, tangan kanan Jodha bergetar ketika membelai wajah Jalal sementara tangan kirinya menutupi mulutnya dan mulai menangis
“Jalaaaal ,,,,” suara Jodha terdengar lirih memanggil nama Jalal
“Jalal, bangun, Jalal ,,, kamu bohong kan ? Kamu becanda kan ? Ayooo bangun Jalal !” suara Jodha menggema di ruang jenazah yang sepi itu sambil menguncang guncang tubuh Jalal, namun Jalal hanya diam saja, tidak ada respon apapun dari tubuhnya sementara Moti dan Rukayah juga ketiga sahabat Jalal hanya diam terpaku sedih
“Jalal ! Banguuuun ,,,, banguuun, Jalal ! Aku tahu aku memang egois, aku memang jahat, aku memang nggak bisa ngertiin kamu, aku menyesal, Jalal ,,, aku menyesal dengan semua ini, aku minta maaf, Jalal ,,, kenapa kamu harus pergi secepat ini ? Banguuun Jalal ! Bangun !” teriak Jodha sambil memukul mukul dada Jalal sambil terus menangis pilu, namun Jalal tetap diam saja
“Kenapa kamu melakukan ini, Jalal ! Kenapa kamu suka sekali menyakiti aku ? Aku menyesal karena aku terlambat mengatakannya padamu, Jalaaaall” Jodha menangis tersedu sedu sambil menelungkupkan wajahnya diatas dada Jalal, Jodha tidak menyangka kalau Jalal akan pergi secepat itu
“Memangnya kamu terlambat mengatakan apa, Jodha ?” tiba tiba Jodha mendengar suara yang sangat dikenalnya, Jodha mendongak keatas dan dilihatnya kedua bola mata Jalal yang terbuka dengan senyum yang mengembang di wajahnya, sontak Jodha kaget
“Kamu ?!” Jodha langsung bangun dan menatap Jalal yang tersenyum manis didepannya sambil duduk di atas tempat tidur, semua teman teman Jalal tersenyum melihat tingkah Jodha yang seperti cacing kepanasan, sementara Rukayah dan Moti sama bingungnya dengan Jodha
“Jadi ! Kamu pura pura ? Kamu bohongin aku ?” ujar Jodha sambil menyeka airmatanya
“Aku minta maaf, Jodha ,,, kalau aku harus melakukan cara ini, karena kalau nggak gini caranya, sampai kapanpun aku nggak akan tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya ke aku dan tadi ,,,” Jodha langsung meninju dada Jalal memotong ucapan Jalal sambil berkata
“Nggak lucu ! Aku nggak suka caramu ini !” Jodha langsung berbalik hendak meninggalkan Jalal namun Jalal segera menyambar tangan Jodha dan berhasil mencengkramnya erat “Kita bisa bicarakan soal ini baik baik, Jodha” namun Jodha tidak suka dengan ulah Jalal “Lepaskan ! Aku bilang lepaskan !” bentak Jodha sambil melototkan matanya yang bulat
“Oke, oke ,,, aku lepaskan” Jalal segera melepaskan tangan Jodha, Jodha segera berbalik dan berlari keluar dari ruang jenazah itu
“Jodhaaaa !” teriak Jalal sambil turun dari tempat tidur, namun baru saja hendak melangkah tiba tiba Jalal terjatuh “Aduuuuh !” ketiga sahabat Jalal langsung mendekati Jalal dan membantunya untuk berdiri, sementara Jodha dan kedua sahabatnya sesaat menengok ke belakang melihat Jalal yang terjatuh namun kemudian mereka tidak mempedulikannya dan langsung berbalik meneruskan langkah mereka
“Jodha ! Bisa nggak sih kamu nggak keras kepala seperti ini !” Rukayah segera menghentikan langkah Jodha begitu mereka sampai di luar pintu kamar jenazah
“Aku nggak suka, Ruku ! Jelas jelas dia mempermainkan aku ! Caranya kampungan !” ujar Jodha sengit sambil menatap Rukayah yang berdiri didepannya, sementara Moti mengekor dibelakang Jodha
“Tapi kamu juga suka kan sama dia ? Kamu cinta kan sama dia ? Kamu nggak usah munafik, Jo !” suara Rukayah melengking tinggi membuat beberapa orang yang melintas didepan mereka, langsung menoleh heran melihat ke arah mereka berdua
“Bisa nggak sih kamu kecilin suara kamu, lihat semua orang ngeliatin kita” bisik Jodha sambil menunjuk ke arah orang orang disekitar mereka, tepat pada saat itu Jalal menghampiri mereka sambil duduk di atas sebuah kursi roda, dari tempatnya berdiri Rukayah melihat kondisi Jalal dimana kakinya dibalut dengan gips
“Kamu mau bukti yang lebih kan, Jo ? Lihat dibelakang kamu !” ujar Rukayah sambil memberikan isyarat ke Jodha agar menengok ke belakang, Jodha segera menengok ke belakang, dilihatnya Jalal sedang duduk diatas kursi rodanya dengan kaki kanan dibalut gips, Jodha tertegun
“Jalal beneran jatuh, Jodha ,,, kakinya retak karena tertindih batu, untung kepalanya tidak apa apa dan yang tadi kami lakukan ,,,” Jalal langsung mengangkat tangannya meminta Aziz berhenti bicara
“Aku benar benar minta maaf, Jodha ,,, aku tidak bermaksud mempermainkan kamu, itu semua aku lakukan hanya karena aku ingin mencuri perhatianmu, aku benar benar mencintai kamu, Jodha ,,, mereka semua ini saksinya” belum juga Jodha mendengar semua penjelasan Jalal “Jalal ! Kamu disini !” suara wanita setengah baya mengusik pembicaraan mereka
“Ibu !” Jodha bisa melihat seorang wanita setengah baya datang menghampiri mereka dengan senyum mengembang diwajahnya, dari penampilannya yang anggun, Jodha bisa melihat wanita yang dipanggil ibu oleh Jalal ini memiliki kecantikan luar dalam, garis garis kecantikan di masa mudanya masih membekas pada guratan wajahnya yang mulai menua
“Ibu, kenalkan ini Jodha !” wanita setengah baya itu langsung melirik ke arah Jodha sambil tersenyum
“Jadi kamu yang namanya Jodha ?” Jodha mengangguk sambil menunduk malu, ibu Hamida ibu kandung Jalal memegang dan mengangkat dagu Jodha lembut “Jalal banyak cerita tentang kamu, ternyata Jalal benar, kamu memang cantik dan kamu memang berbeda” Jodha menatap kearah ibu Hamida dengan tatapan heran
“Apa yang Jalal ceritakan tentang saya, ibu ,,,”, “Hamida, kamu bisa memanggil aku dengan sebutan ibu Hamida” ujar ibu Hamida lembut
“Ibu, Jalal mana ?” tak lama kemudian suara berat seorang laki laki terdengar di belakang ibu Hamida
“Selamat siang profesor Humayun” semua teman Jalal langsung memberikan salam pada laki laki tua, yang memiliki postur tinggi tegap dengan rambutnya yang beruban dan kacamata silinder yang bertengger di hidungnya yang mancung, Jodha terperangah ketika mengetahui kalau profesor Humayun, dosen killernya yang ditakuti semua anak fakultas kedokteran adalah ayah Jalal
“Profesor Humayun, selamat siang” Jodha dan teman temannya juga ikut menyapa dosen killer itu
“Kenapa kalian semua ada disini ? Apa tidak ada mata kuliah hari ini ? Lalu kenapa kalian ada didepan ruang jenazah” suara profesor Humayun yang berat membuat semua teman teman Jalal bergidik, Jodha juga tidak tahu harus menjawab apa
“Tenang, ayah ,,, mereka ini sedang menengok aku dan kebetulan aku tadi bosan di kamar terus, aku sedang berjalan jalan sampai sini, lalu mereka mencariku” profesor Humayun mengangguk anggukkan kepalanya mendengar jawaban Jalal, semua teman teman Jalal tersenyum dan bernafas lega ketika melihat senyum di wajah profesor Humayun
“Hei, bukannya kamu ini anak semester dua ? Kenapa bisa kenal dengan Jalal ?” pertanyaan profesor Humayun mulai menyudutkan Jodha
“Siapa yang tidak kenal dengan anak kita, ayah ,,, Jalal kan terkenal di kampus, sama seperti ayahnya, bukan begitu anak anak ?” ucapan ibu Hamida benar benar menyelamatkan posisinya didepan profesor Humayun
“Baiklah, kalau begitu ,,, ayooo Jalal kembali ke kamarmu !” profesor Humayun segera mengambil alih menyorong kursi roda Jalal, ibu Hamida mengikutinya dari belakang, teman teman Jalal juga mengekor, sementara Jodha dan kedua sahabatnya masih bertahan disana
“Ayooo, Jodha ,,, kita ikuti mereka” Jodha menggelengkan kepalanya ketika Moti mengajaknya untuk mengikuti rombongan Jalal
“Aku ingin pulang saja, Moti ,,, rasanya kepalaku pusing” ujar Jodha yang tiba tiba merasa kepalanya pening sambil memegangi kepalanya
“Ya sudah kita pulang saja, nanti kita bisa kabari mereka via BBM kalau kita pulang dulu, ayoooo” ujar Rukayah sambil menggandeng tangan Jodha
Beberapa hari kemudian ,,,
Jalal akhirnya hanya bisa bertahan di rumah sakit dengan kakinya yang retak, sementara Jodha juga masih bertahan dengan egonya untuk tidak membalas cinta Jalal, rasa keras kepalanya telah merasuki semua ruang di kepalanya, Jodha bersikeras tidak ingin menemui Jalal kembali di rumah sakit, meskipun kedua sahabatnya mencoba membujuknya untuk bertemu dengan Jalal, Jodha tetap tidak tergoda, hingga akhirnya satu bulan pun berlalu, tahun ajaran baru di mulai, Jodha memasuki semester ke 3 sedangkan Jalal memasuki semester ke 7 yang merupakan tahun terakhirnya di kampus kedokteran. Satu bulan tidak bertemu dengan Jalal, sebenarnya menyiksa relung bathin Jodha, Jodha selalu merasa kesepian meskipun dirinya berkumpul dengan keluarganya selama libur semester kemarin, sering tanpa sadar Jodha menangis ketika Jodha teringat pada Jalal, Jodha merasa tersiksa ketika harus berada jauh dari Jalal, Jodha baru menyadari kalau sebenarnya dirinya memang mencintai laki laki bengal itu si don yuan kampus, senyumannya yang nakal selalu membuat Jodha kangen, ingin rasanya Jodha segera terbang ke Jakarta untuk bertemu dengan Jalal “Bukti apa lagi yang kamu inginkan Jodha ? Dia telah memenuhi janjinya sendiri untuk tidak dekat dengan gadis manapun, lalu kamu ingin bukti yang seperti apa lagi ? Hatimu sendiri merasa tersiksa begitu dia tidak ada didekatmu, dadamu selalu berdegup sangat kencang ketika dekat dengannya, bukti apa lagi ?” rutuk Jodha dalam hati, Jodha merasa dirinya telah menyia nyiakan cinta Jalal tapi sejurus kemudian Jodha teringat akan ancaman ayahnya yang tidak main main, Jodha merasa berada pada sebuah dilema yang sangat besar, hingga akhirnya liburan semesterpun berakhir.
Ketika kembali ke tempat kost kostan setelah melewati masa liburan, tiba tiba saja di depan pintu kamar kostnya, Jodha melihat sebuah boneka beruang besar warna pink seukuran tubuh orang dewasa teronggok di depan pintu kamarnya, Jodha terkejut.
“Boneka ini untukmu, Jo !” Jodha segera menoleh kebelakang ketika di dengarnya suara Moti, Jodha tersenyum dan langsung meletakkan semua barang bawaannya dan mendekat kearah Moti sambil mengembangkan kedua tangannya kemudian memeluk Moti, Moti membalas pelukan Jodha
“Apa kabar, Mo ? Bagaimana liburanmu ?”, “Liburanku menyenangkan, Jodha ,,, kamu sendiri ?” Jodha cuma menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
“Siapa yang kirim boneka itu ?” Moti menghela nafas panjang
“Siapa lagi kalau bukan pengagum rahasiamu yang selalu kamu abaikan selama ini, yang selalu mengirimi kamu bunga setiap pagi, yang selalu siap ketika kamu membutuhkan bantuannya” Jodha menatap kearah boneka itu dengan mata berkaca kaca penuh haru, dihampirinya boneka itu dan diambilnya sebuah kartu ucapan yang di sematkan di pita yang mengitari perut si boneka
Jariku mungkin tidak selalu bisa menyentuhmu, mataku mungkin tidak selalu bisa melihat dirimu, ragaku mungkin tidak mungkin selalu bisa menemani dirimu, tetapi yakinlah bahwa dihatiku hanya ada dirimu, selamanya ,,, JA”
Jodha tersenyum penuh haru sambil menyeka air matanya yang membasahi pipi
“Aku ingin bertemu dengan dia, Moti ,,, kamu mau kan menemui aku ?” Moti tersenyum bahagia
“Tentu, Jodha ! Aku pasti akan menemani kamu” Jodha tidak sabar ingin segera bertemu dengan Jalal.. Deja Vu bag 13 by Sally Diandra.