Deja Vu bag 7 by Sally Diandra

Deja Vu bag 7 by Sally Diandra.  Jodha dan Jalal sudah berada di puncak gunung Gede, saat itu matahari belum turun dan dari atas mereka bisa melihat padang Savana, Jodha merasa semakin takjub dengan pemandangan yang berada di depannya “Ini kawah gunung Gede, bau belerang itu berasal dari sini” Jodha menganggukkan kepalanya ketika Jalal memberikan penjelasan tentang keadaan disekitar mereka “Kalalu itu apa ?” tanya Jodha sambil menunjuk ke padang Savana yang berada di bawah mereka “Itulah lembah Surya Kencana” ujar Jalal sambil menyeringai senang. Surya Kencana ada di sisi kiri merupakan kawah yang dibatasi tali baja, sedangkan di sisi kanan merupakan jurang curam yang tidak dibatasi apapun, lebar jalannya pun hanya satu setengah meter, jalannya merupakan kerikil berpasir, tapi tracknya cukup landai dan dari kejauhan jalan menuju Surya Kencana ini seperti jembatan lurus, kering dan berdebu.
Alun – alun Surya Kencana adalah sebuah dataran seluas 5 hektar lebih yang ditutupi oleh indahnya hamparan bunga Edelwies yang berada di ketinggian kurang lebih 2.700 Mdpl, ribuan tanaman Edelweiss tersebar di padang hijau yang luas ini, di setiap sudut pasti terdapat bunga abadi ini, namun para pendaki tidak diperbolehkan untuk memetik bunga bunga tersebut. Surya kencana memang menjadi surga para pendaki Gunung Gede ini. Di tengahnya terdapat sumber air yang membentuk sebuah aliran sungai kecil yang membelah Surya Kencana di bagian barat. Airnya sungguh sangat jernih dan bisa langsung untuk diminum.
Deja Vu“Hamparan bunganya terlihat sangat indah dari atas sini” ujar Jodha yang semakin takjub sambil memandangi savana edelweis itu “Tapi kita tidak boleh mengambilnya, kalau ketahuan oleh pengawas hutan maka kita disuruh mengembalikannya” Jodha terkejut “Really ?” Jalal menganggukkan kepalanya “Konon kabarnya di Taman Surya Kencana itu adalah tempat Prabu Siliwangi diangkat ke langit”, “Iyaaa, tempat ini memang sebuah tempat yang sempurna atau yang bisa dikatakan sebagai secuil surga dari sejuta surga yang Tuhan ciptakan di negri kita” ujar Jodha bangga .
Setelah puas melihat sunset dari atas puncak gunung Gede, Jalal dan Jodha mulai bergerak turun “Ayoo kita turun, teman teman sudah menunggu di bawah” dari atas tadi sebelum sunset Jodha memang melihat banyak tenda tenda yang di tersebar di alun alun Surya Kencana “Teman teman sudah mendirikan tenda di bawah ?” Jalal segera mengangguk “Mereka mendirikan tenda di pintu masuk alun alun Surya Kencana, tepatnya dibalik rimbunan pohon Edelweis, itu adalah tempat yang paling aman karena terhindar dari terpaan angin yang akan terasa di malam hari” mata Jodha berbinar binar terang membayangkan kalau malam ini dia akan tidur di alam bebas
Tak lama kemudian Jodha dan Jalal turun ke bawah, tracknya merupakan tangga-tangga yang tersusun dari batu kerikil yang licin karena letak batu batunya tidak stabil. Saat itu jam 6 petang ketika mereka berdua menyusuri track tersebut, perjalanan ke bawah membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit, keadaannya sangat gelap, mereka berdua hanya bisa mengandalkan senter yang mereka bawa masing masing “Hati hati kalau berjalan disini, karena kerikilnya licin” baru saja Jalal mengatakan hal tersebut tiba tiba Jodha terjatuh, kakinya menginjak batu yang tidak stabil “Aduuuuh !” Jalal segera menengok ke belakang dan dilihatnya Jodha sudah terduduk di tanah, Jalal tersenyum sambil mengulurkan tangannya ke Jodha dan menyenteri sekujur tubuh Jodha “Kenapa kamu ketawa ?” ujar Jodha kesal “Memangnya aku ketawa ?” ujar Jalal sambil menahan tawanya “Memangnya lucu ?” Jodha langsung memasang muka masam “Kamu ternyata judes ya, gampang marah lagi !”, “Biarin !” ujar Jodha lantang “Oke oke oke ... kamu mau aku bantuin gak ? Ayooook” ujar Jalal lagi sambil masih mengulurkan tangannya ke arah Jodha, mau tak mau akhirnya Jodha menyambut uluran tangan Jalal sehingga bisa berdiri kembali “Terima kasih !”, “Sama sama” ujar Jalal sambil tersenyum senang, saat itu sebenarnya Jodha merasa lututnya memar dan sakit tapi Jodha berusaha menahannya, kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi turun ke bawah.
Pukul setengah tujuh mereka sudah sampai dicamp, rombongan mapala Nusantara sudah mendirikan tenda dan api unggun “Kamu bareng Rukayah kan ?” Jodha hanya mengangguk “Aku akan tanyakan ke posko dimana tenda Rukayah, kamu tunggu disini” Jalal segera masuk ke sebuah tenda yang agak besar dibanding tenda tenda yang lain, sementara saat itu dilihatnya semua teman teman dalam rombongannya itu sedang sibuk dengan aktifitas mereka masing masing “Jodha, kamu baru datang ?” Jodha hanya mengangguk ketika Javeeda menanyakannya “Lalu dimana Jalal ?”, “Dia masuk ke dalam” tepat pada saat itu Jalal sudah keluar dari camp posko mereka “Jalal ! Akhirnya kamu sampai juga ! Aku sudah khawatir waktu kamu tidak terlihat dalam rombongan” Javeeda langsung nyerocos sambil memegang lengan Jalal yang kekar “Aku akan mengantar Jodha dulu ke camp Rukayah”, “Biar aku saja ! Kebetulan tenda kami bersebelahan kok, kamu istirahat saja dulu, lagian kamu belum makan kan ? Aku punya makanan special buat kamu” Jodha dan Jalal saling berpandang pandangan “Ayooo, Jodha ! Aku antar kamu” Jodha segera mengekor di belakang Javeeda
Begitu sampai di tenda Rukayah, saat itu Rukayah sedang makan nasi yang dicampur dengan mie instan “Jodhaaa !” Rukayah langsung menyeringai senang begitu Jodha muncul didepannya “Aku sempat panik tadi waktu kamu ketinggalan dibelakang kami tapi kata temen temen, kamu aman karena Jalal bareng kamu, kamu baik baik saja kan ?” Rukayah terus nyerocos, sementara Jodha mulai melucuti ransel, jaket dan sepatunya kemudian merebahkan tubuhnya di dalam tenda “Kamu capek yaaaa ? Kamu lapar ? Aku ambilin makanan ya” Jodha hanya tersenyum “Kamu sendiri bagaimana ? Apa di tandu terus sampai disini ?” Rukayah menggelengkan kepalanya “Aku di tandu hanya sampai puncak saja, lalu ketika turun kesini aku mulai jalan sendiri tapi aku nggak bisa melihat sunset karena kata temen temen, kita bisa melihatnya saat sunrise besok, kamu tadi bisa melihat sunset ?” Jodha segera menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempolnya ke Rukayah “Top abeeesss ! Aku sampai speechless, tidak bisa diungkapkan dengan kata kata jadi memang harus melihatnya sendiri” mata Rukayah berbinar terang ketika mendengar cerita Jodha
Aku harus melihatnya besok !” ujar Rukayah lantang “Sebentar aku ambil makanan buat kamu ya ! Biasa makanan anak kost ! Yang penting kenyang kan ?” Jodha hanya tertawa kecil mendengar ucapan Rukayah yang saat itu sudah berlalu meninggalkan Jodha, sepeninggal Rukayah, Jodha segera bangun kemudian menggulung celananya sampai di lutut, dilihatnya lututnya yang memar, rasa sakitnya masih terasa, tak lama kemudian tiba tiba hujan turun dengan derasnya dan tiba tiba pula Jalal muncul didepan Jodha dengan dua mug di tangannya “Hai !” Jodha mendongak dilihatnya Jalal sedang berjongkok didepannya “Boleh aku masuk ?” Jodha segera mengangguk “Kamu kehujanan”, “Tidak apa apa, curah hujan disini memang cukup tinggi, kamu belum makan kan ? Ini aku bawakan minuman energen buat kamu tapi sorry sedikit tercampur air hujan tadi” ujar Jalal sambil menyodorkan salah satu mug ke Jodha “Terima kasih” Jodha segera menerima mug dari Jalal dan mulai meminumnya perlahan “Kamu masuk saja kedalam, disitu basah” ujar Jodha sambil menggeser tubuhnya agak kebelakang agar Jalal tidak terkena air hujan “Terima kasih, hujan disini memang tidak bisa di prediksi, aku baru saja sampai di dekat tenda kamu, lalu turun hujan” Jodha hanya diam sambil menikmati minuman pemberian Jalal yang cukup membuat perut sedikit keyang
“Rukayah mana ? Kok nggak ada ?”, “Dia lagi ambil makanan” Jodha akhirnya mau buka mulut “Bagaimana kakimu yang terkilir ? Aku akan membalutnya dan memberikan obat pereda nyeri untuk kamu, ini aku sudah bawa peralatannya” ujar Jalal sambil memperhatikan kaki Jodha terutama salah satu celana yang di gulung ke atas lutut “Lutut kamu memar ? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi ?” Jalal segera membuka peralatan dan obat obatan yang dibawanya sedari tadi, kemudian mulai mengobati luka di lutut Jodha, Jodha menyeringai kesakitan
“Aku tidak apa apa kok, kamu nggak usah repot repot, nanti ada yang marah” ujar Jodha dengan nada sungkan “Kenapa harus ada yang marah ?” ujar Jalal sambil terus mengobati luka Jodha “Iyaaa bukankah itu tadi pacar kamu ?” Jalal langsung tertawa kekeh “Javeeda maksud kamu ?” Jodha tertegun memperhatikan Jalal yang masih asyik mengobati kaki Jodha, dari lutut beralih ke kaki Jodha yang terkilir “Yaaa kalaupun bukan dia, pasti tetap ada yang marah kan sama aku karena kabar yang aku dengar ...” Jalal langsung menghentikan aktifitasnya dan memandang ke arah Jodha tajam, tatapan Jalal bagaikan pedang yang menghunus tepat ke jantung Jodha, Jodha merasa degup jantungnya serasa berhenti “Apa yang kamu dengar tentang aku ?” ke dua manik manik bola mata mereka berdua saling berpandangan sementara hujan di luar sana malah semakin deras “Banyak yang mengatakan kalau pacar kamu banyak, kamu don yuan kampus, kamu suka gonta ganti pacar, benar kan begitu ?” tanya Jodha dengan matanya yang bulat, Jalal hanya tertawa terkekeh kemudian kembali melanjutkan aktifitas mengobati kaki Jodha “Kenapa kamu tertawa ? Bukankah itu benar ?” selidik Jodha “Kalau aku don yuan kampus ?” Jodha segera mengangguk “Mungkin bisa dikatakan seperti itu tapi asal kamu tahu saja, bukan aku yang mengejar ngejar cewek cewek itu tapi mereka yang mengejar ngejar aku” Jodha tertawa sinis “Sombong sekali kamu” ujar Jodha ketus
“Lho itu kenyataan, aku berkata benar, kamu bisa tanya teman temanku atau anak anak kampus, mereka semua tahu” bela Jalal dengan senyuman lebar di wajahnya “Tapi walaupun begitu, tetap saja kamu ladeni kan ?” Jalal tertawa kecil “Kamu ini aneh, aku ini laki laki, normal kan naluri seorang laki laki” ujar Jalal sambil melirik ke arah Jodha “Dasar laki laki !” Jalal hanya tersenyum mendengar ucapan Jodha “Nah, sudah selesai ,,, kalau kamu merasa sakit, kamu bisa segera menghubungi aku” tepat pada saat itu hujan pun berhenti dan tak lama kemudian Rukayah masuk ke dalam tenda dan melihat Jalal dan Jodha sedang berdua di dalam tenda “Jodha, maaf sekali aku baru bisa bawa makanannya untuk kamu tadi hujan” ujar Rukayah sambil membawa semangkok nasi mie yang dijanjikannya tadi “Iya, gak papa” Rukayah merasa heran begitu melihat Jalal di dalam tendanya “Kamu disini ngapain ?”, “Dia membantu merawat lukaku, tadi lututku memar dan kakiku juga sempat terkilir” Jodha segera mentralisir keadaan agar Rukayah tidak curiga dengan kehadiran Jalal di dalam tenda mereka
“Hujan sudah reda, lebih baik aku kembali ke tendaku” Jalal segera mengemasi peralatan P3K yang dibawanya tadi, Jodha pun segera mengembalikan mug yang telah kosong ke Jalal “Terima kasih untuk minuman dan bantuannya” Jalal hanya tersenyum kemudian segera bergeser ke depan pintu tenda “Jangan lupa tetap gunakan penghangat tubuh dan sleeping bag kalian, malam ini mungkin akan terasa sangat dingin, selamat malam” Jodha dan Rukayah hanya mengangguk kemudian Jalal berlalu dari tenda mereka, Rukayah memandang Jodha dengan perasaan curiga, Jodha bisa melihat kalau Rukayah hendak menanyakan sesuatu “Apa ?” Rukayah menyeringai senang “Bagaimana bisa cowok cool itu perhatian banget sama kamu ?” Jodha mengendikkan bahunya sambil menikmati nasi mie pemberian Rukayah “Mana aku tahu ? Dia sendiri yang datang kesini, aku nggak memintanya” Rukayah semakin tersenyum lebar “Jangan jangan ,,,” Rukayah tidak melanjutkan ucapannya “Jangan jangan apa ?” Jodha penasaran dengan ucapan Rukayah “Jangan jangan dia naksir kamu !”, “Oooh tidak tidak tidak ! Itu tidak mungkin Ruku ! Karena dia bilang dia itu yang sering di kejar kejar cewek bukan dia yang ngejar ngejar jadi pada intinya selama ini kalau aku simpulkan dari ucapan dia kalau dia itu pantang mengejar cewek !” mata Rukayah terbelalak “Oh ya ? Kalian berdua sudah seintens itu ?” Jodha tertegun sambil mengunyah nasi mie di mulutnya “Maksudmu ?”, “Yaa ceritamu tadi, kalian berdua sudah ngobrol tentang pribadi kalian berdua kan ?” Jodha segera menggelengkan kepala
“Ru-ka-yah catet ya di otakmu, kalau cuma sekedar ngobrol wajar kan ? Aku rasa itu bukan hal yang aneh dan harus menjadi pembicaraan yang menghebohkan, buatku biasa biasa saja, nggak penting tau nggak !” ujar Jodha sambil melanjutkan acara makannya lagi, sementara Rukayah hanya tersenyum senyum sendiri “Iya deeeh iyaaaa” tak lama kemudian Rukayah mulai mencopot semua pakaiannya dan membasuh tubuhnya dengan tissue basah seraya berkata “Kalau naik gunung katanya mandinya pake tissue basah ini saja sudah cukup” Jodha langsung ikut ikutan setelah selesai menikmati makan malamnya “Untung juga kita pake kaosnya yang quick dry ya, jadi nggak ribet nyucinya, cukup diangin anginka saja kan ?” Rukayah mengangguk tak lama kemudian mereka berdua sudah berganti pakaian dan siap untuk tidur, kaos kaki tidur, sarung tangan tidur, topi dari wol untuk menghangatkan kepala dan telinga sudah mereka kenakan, matras dan sleeping bag pun sudah menanti, Jodha dan Rukayah segera merangsek masuk ke dalam sleeping mereka masing masing “Selamat tidur” ujar Rukayah “Selamat malam, tidur yang nyenyak ya” jawab Jodha sambil menguap tepat pada saat itu rupanya hujan turun kembali, tidur di dalam tenda sambil mendengar tetesan hujan adalah suatu pengalaman langka yang terekam di dalam ingatan Jodha. Hari pun semakin gelap, suasana sangat sepi hanya rintik hujan yang terdengar, Jodha semakin mengantuk, jari jarinya serasa membeku sampai sakit, rasanya seperti memegang es batu, dimana ujung-ujung jarinya sakit, persendian kaku, betul kata Jalal kalau malam ini mereka akan merasakan suhu yang sangat ekstrim, walaupun mereka tidur di tenda, beralaskan matras dan di  dalam sleeping bag namun dinginnya masih tidak tertahankan.... Deja Vu bag 8 by Sally Diandra.